Penalaran adalah sistem berfikir manusia dengan menghubungkan data atau fakta yang ada menjadi suatu simpulan. Menurut Gorys Keraf, penalaran adalah suatu proses berpikir yang menghubungkan fakta – fakta untuk memperoleh suatu kesimpulan yang logis. Penalaran tidak hanya dapat dilakukan dengan memakai fakta – fakta yang polos, tetapi penalaran juga dapat menggunakan fakta – fakta yang berbentuk pendapat atau kesimpulan.

Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut denganconsequence (konklusi).

Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

 

Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi.

 

Jenis penalaran deduktif  yaitu:

 

Ø  Silogisme Kategorial = Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.

Ø  Silogisme Hipotesis = Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.

Ø  Silogisme Akternatif = Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.

Ø  Entimen = Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

 

·         Contoh Paragraf Deduktif


Chairil Anwar terkenal sebagai penyair. Ia disebut penyair yang membawa pembaharuan dalam puisi. Ada yang mengatakan dia sebagai seorang individualis. Ada yang menilai bahwa ia seorang yang kurang bermoral dan plagiat karena ada sebagian kecil dalam gubahannya merupakan jiplakan dari puisi asing. Dalam sajak-sajaknya yang dikumpulkan dalam “Deru Campur Debu” memperlihatkan adanya perbedaan bentuk, corak, gaya, dan isi. Tanggapan orang terhadap Chairil berbeda-beda. Namun, bagaimanapun ia tetap seorang penyair besar yang membawa kesegaran baru dalam bidang puisi pada 1945
.

 

Penarikan kesimpulan deduktif dibagi menjadi dua, yaitu penarikan langsung dan tidak langsung.

 

1.     Penarikan simpulan secara langsung

Simpulan secara langsung adalah penarikan simpulan yang ditarik dari satu premis. Premis yaitu prosisi tempat menarik simpulan.

Simpulan secara langsung:

1.      Semua S adalah P. (premis)

Sebagian P adalah S. (simpulan)

 

Contoh: Semua manusia mempunyai rambut. (premis)

               Sebagian yang mempunyai rambut adalah manusia. (simpulan)

 

2.      Semua S adalah P. (premis)

Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)

 

Contoh: Semua pistol adalah senjata berbahaya. (premis)

               Tidak satu pun pistol adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)

 

3.      Tidak satu pun S adalah P. (premis)

Semua S adalah tak-P. (simpulan)

 

Contoh: Tidak seekor pun gajah adalah jerapah. (premis)

               Semua gajah adalah bukan jerapah. (simpulan)

 

4.      Semua S adalah P. (premis)

Tidak satu-pun S adalah tak P. (simpulan)

Tidak satu-pun tak P adalah S. (simpulan)

 

Contoh: Semua kucing adalah berbulu. (premis)

               Tidak satu pun kucing adalah takberbulu. (simpulan)

               Tidak satupun yang takberbulu adalah kucing. (simpulan)

2.     Penarikan simpulan tidak langsung

Penarikan simpulan tidak langsung memerlukan 2 premis. Premis yang pertama bersifat umum, sedangkan yang kedua bersifat khusus. Penarikan simpulan tidak langsung terdapat 2 bagian, yaitu silogisme dan entimem.

1. Silogisme

Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan sebuah kesimpulan yang merupakan proposisi ketiga. Proporsisi merupakan pernyataan yang dapat dinyatakan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung didalamnya (keraf, 1982). Silogisme terdiri atas tiga bagian: premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.

Premis mayor mengandung term mayor dari silogisme, merupakan generalisasi atau proposisi yang dianggap benar bagi semua unsur atau anggota kelas tertentu. Premis minor mengandung term minor atau tengah dari silogisme, berisi proposisi yang mengidentifikasi atau menunjuk sebuah hasil atau peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu.Kesimpulan adalah proposisi yang menyatakan bahwa apa yang berlaku bagi seluruh kelas akan berlaku pula bagi anggota-anggotanya.

Contoh :

Premis Umum

semua cendikiawan adalah pemikir.

Premis Khusus

Josh adalah cendikiawan.

Simpulan

Jadi, Josh adalah pemikir.

Ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan silogisme, antara lain:

I.  Sebuah silogisme hanya terdiri dari tiga proposisi: premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.

II. Jika sebuah silogisme mengandung sebuah premis yang positif dan sebuah premis negatif (menggunakan kata tidak atau bukan) maka kesimpulannya harus negatif.

Contoh :

Premis Umum

Guru SD golongan III tidak perlu mengikuti program DII Guru SD.

Premis Khusus

Sinichi adalah guru SD golongan III.

Simpulan

Karena itu, Sinichi tidak perlu mengikuti program DII Guru SD.

III. Dari dua buah premis yang negatif tidak dapat ditarik kesimpulan.

Contoh :

Premis Umum

Indonesia bukanlah negara agama.

Premis Khusus

Yugi adalah orang yang tidak memiliki agama

Simpulan

Jadi, Yugi adalah orang Indonesia.

IV. Premis mayor yang benar belum tentu menghasilkan kesimpulan yang benar jika proses penyimpulannya keliru.

Contoh :

Premis Umum

Manusia adalah makhluk berakal budi.

Premis Khusus

Ken bodoh.

Simpulan

Jadi, Ken bukan manusia.

2. Entimen

Entimen adalah silogisme yang dipersingkat. Dalam kenyataannya tidak banyak yang menggunakan bentuk silogisme yang lengkap dalam kehidupan sehari-hari. Demi kepraktisan, bagian silogisme yang dianggap telah dipahami, dihilangkan (Guinn dan Mather, 1987; Suparno 2004).

Contoh :

Premis Umum

Semua preman adalah penindas orang yang sedang kesusahan.

Premis Khusus

Wario adalah seorang preman.

Simpulan

Wario adalah penindas orang yang sedang kesusahan.

Entimem

Wario adalah preman, penindas orang yang sedang kesusahan.

Jadi, dengan demikian silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, entimen   juga dapat dijadikan silogisme.

3.     Kesalahan Dalam Penalaran.

Kesalahan penalaran dapat terjadi di dalam proses berpikir utk mengambil keputusan. Hal ini terjadi karena ada kesalahan pada cara penarikan kesimpulan. Salah nalar lebih dari kesalahan karena gagasan, struktur kalimat, dan karena dorongan emosi.

Kesalahan Penalaran ada dua macam:

 

Û    Kesalahan induktif, berupa :

1.     kesalahan karena generalisasi yang terlalu luas,

2.     kesalahan penilaian hubungan sebab-akibat,

3.     kesalahan analogi.

 

Û    Kesalahan deduktif dapat disebabkan :

1.   kesalahan karena premis mayor tidak dibatasi;

2.   kesalahan karena adanya term keempat;

3.   kesalahan karena kesimpulan terlalu luas/tidak dibatasi;

4.   kesalahan karena adanya 2 premis negatif.

 

Fakta atau data yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar.

Pengertian dan contoh kesalahan penalaran :

Û    Gagasan,pikiran,kepercayaan,simpulan yang salah, keliru, atau cacat.

 

Dalam ucapan atau tulisan kerap kali kita dapati pernyataan yang mengandung kesalahan. Ada kesalahan yang terjadi secara tak sadar karena kelelahan atau kondisi mental yang kurang menyenangkan, seperti salah ucap atau salah tulis misalnya. Ada pula kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan, disamping kesalahan yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu.

 

Kesalahan yang kita persoalkan disini adalah kesalahan yang berhubungan dengan proses penalaran yang kita sebut salah nalar. Pembahasan ini akan mencakup dua jenis kesalahan menurut penyebab utamanya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal dan karena materi dan proses penalarannya yang merupan kesalahan formal.

Berikut ini kesalahan penalaran yang berhubungan dengan induktif, yaitu :

 

A. Generelisasi terlalu luas.

Contoh : perekonomian Indonesia sangat berkembang.

 

B. Analogi yang salah

Contoh : ibu Yuni, seorang penjual batik, yang dapat menjualnya dengan harga terjangkau. Oleh sebab itu, ibu Lola seorang penjual batik, tentu dapat menjualya dengan harga terjangkau.

 

 

 

 

Sumber:

http://carapedia.com/paragraf_deduktif_induktif_info700.html

Dyas Puspandari. 2009. Bahasa Indonesia Politeknik Telkom. Bandung: Politeknik Telkom.

http://www.gunadarma.ac.id

About f4dhillah

selalu berfikir positif tentang masa depan....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s